HOME / Automotive / Test Drive – New Hyundai Santa Fe 2013
Posted December 3rd, 2012 , 1
Test Drive – New Hyundai Santa Fe 2013

Our guest today is… the new Hyundai Santa Fe 2013, Generasi ketiga big SUV Hyundai yang yah… dari generasi pertama pun gak sering-sering amat terlihat di jalanan Indonesia.

Well, dari jaman Kia Carnival datang ke jagat otomotif Indonesia raya, jujur aja saya gak pernah ada tertarik-tertariknya sama mobil Korea. Apalagi pas dikasih tahu Hyundai menapaki jalan premium (maksudnya luxury. bukan kelas pemakai bensin premium) dimana mindset si saya is mobil Korea itu mobil murah dengan kualitas murah kok ya berani amat masuk kelas premium. Tambah ill-feel lah sayanya. Kaya jaman dulu pernah ada quote bagus di majalah otomotif yang saya lupa judulnya waktu Santa Fe generasi kedua keluar which is,

“yang menjadi daya jual mobil korea itu value for moneynya. Tapi setelah melihat Hyundai Santa Fe berharga sama dengan Toyota Harrier, kami jadi bertanya. Dimana value for moneynya?”

Pun begitu setelah mencoba mobil-mobil korea generasi awal. Hyundai Atoz generasi terakhir lah, Kia picanto generasi awal lah, Hyundai Accent Verna yang malang melintang jadi taksi lah, tetep gak ada tertarik-tertariknya si saya.

Tapi jaman pun berubah sejak negara api menyerang. Teknologi makin maju dan jujur aja desain mobil-mobil Korea makin lumayan. Apalagi Hyundai (& Kia) juga udah merekrut eks desainer entah dari VW apa Audi, wajar lah ya saya mulai melirik-melirik dikit barang made in Korea ini.

Balik lagi ke si Santa Fe. Saya benernya udah amat sangat tertarik sejak foto-foto pertama ini mobil beredar di internet. Apa ya… gak hyundai banget gitu tapi dalam artian yang positif. Sangat positif. Apalagi pas foto-foto interior keluar. Wah! makin tertarik aja sayanya. Makanya sampe bela-belain dateng ke IIMS 2012 kmaren buat ngeliat wujud aslinya yang ternyata…. nanti diceritain dibawah.

Untungnya Santa Fe yang dimasukin si Hyundai ke Indonesia ini cuman available satu tipe doang. Jadi yang mau beli tinggal bilang “saya mau santa fe” dan langsung ngerti salesnya mobil apa yang si kastemer maksud. Gak kaya Innova yang tipenya ada E, G, V, beranak pinak pula. Aslinya sih di luar negeri sana si Santa Fe ini available dalam dua tipe, SWB n LWB. S for short alias pendek, L for Long alias panjang. Dan yang dimasukin ke Indonesia raya ini is yang tipe SWB

Anyway, kali ini Mr.B dengan baik hati mendengarkan rekues saya buat ngancem dealer Hyundai supaya nyediain unit test drivenya. Gak selebay itu sih ceritanya. Pokoknya mobilnya udah dateng, dan mari kita coba.

Btw si Santa Fe ini mesinnya diesel. Ya, gak salah baca. Diesel.

Exterior

Kesan pertama… begitu menggoda. Sungguhan deh! Ini mobil desainnya gak Hyundai banget tapi dalam konotasi yang sangat positif. Desainnya futuristis dan mewah. Very good looking. Saya yakin kalau gak ada logo H miring di grill, gak ada yang nyangka kalau ini Hyundai. Potongan body yang masih mirip sama generasi kedua tersamarkan dengan sempurna. Kalau mau lebay sih, seakan-akan si generasi kedua itu dari abad 18, lha yang ini asalnya dari abad 22.

depan samping yang keren

Yang jadi fokus utama untuk fascia depan tentu saja sepasang lampu depan yang desainnya bagus. Mungkin sedikit kurang besar tapi sangat oke dilihat. Masih ada juga alis tambahan yang cukup mirip sama DRL padahal bukan. Peletakan aksen chrome di mobil ini pun gak ada yang kampungan ala mobil murah mau naik kelas. Everything fit dan dinamis.

Lihat sampingnya, semua patahan-patahan desain bodynya disatukan dengan garis body ke tengah body dan semuanya nyatu di pintu tengah. Walaupun saya gak gitu suka sama desain kaca samping mulai menjelang kaca paling belakang, Santa Fe ini salah satu mobil yang bagian sampingnya terlihat bagus. Apalagi ditambah velg dengan warna n desain yang bagus with ukuran yang pas (19 inch) berbalut ban yang ukurannya sesuai bikin tampilan samping makin terlihat bagus.

Liat ke belakang, kita punya sepasang lampu belakang bertekmologi LED dengan desain yang luar biasa cantik dipadu dengan desain belakang yang simpel dan kaca belakang cukup besar. Perfecto.

belakang samping yang gak kalah keren

Well… komentar singkat soal eksteriornya ini buat saya sih menunjukkan betapa saya habis kata-kata mengagumi sebuah eksterior mobil. Jarang loh ada mobil yang eksteriornya se-inspiring ini.

Btw, baru saya notice setelah tuker pendapat sama Mr.B, ternyata Santa Fe ini sedikit lebih kecil dari generasi sebelumnya walaupun chassis yang digunakan sama. Ternyata ilusi mata itu muncul dari panjang mobil yang setengah inchi lebih panjang tapi lebarnya setengah inchi lebih kecil. Penggunaan suspensi baru juga bikin mobil ini 1,5 inchi lebih rendah dari generasi sebelumnya. Still, this car is very good looking!

Interior

Selesai mengagumi bagian luar, tentu saja yang paling penting dari sebuah mobil is akomodasi dalamnya. Jadi kita buka pintunya dan…. yang terjadi terjadilah.

Kita punya jok yang besar untuk 5 orang dengan konfigurasi standar. 2 depan, 2+1 belakang. Kenapa +1? Duduk ditengah jok belakang itu jujur aja gak enak. Bagusnya, semua jok udah dilapisi kulit hitam yang halus, lembut, dan saya paling suka, keliatan mahal! Kulitnya yang mahal maksudnya. Bukan desainnya.

Akomodasi depan

Akomodasi belakang

Perhatiin dashboard n doortrim, boleh juga kualitas bikinannya. Finishingnya bagus, bagian atas dashboardnya gak keras. Bagian-bagian plastik dari mobil ini dikasih motif ala carbon fiber dengan finishing glossy, panel plastik AC yang silver juga bagus.

center dashboard

Tapi yaudah sampe disitu doang. Konon katanya desain dashboard Hyundai ini terbagi tiga bagian which is Lower, Middle, Upper. Bagus-bagus aja sih, tapi dashboardnya malah jadi ketinggian n sedikit ganggu pandangan ke depan. Apalagi ada setir yang… agak kegedean disitu. Udah gitu, instrumen yang ada di dashboard pun keliatan murahan. Mungkin LED warna biru tua yang udah gak jamannya lagi itu masih keliatan futuristik di mobil serba hitam, tapi mbok ya indikator LCDnya masa cuman 1 baris jam atau channel radio/CD dengan font kegedean? Mestinya MID-nya ditaro disitu aja sekalian. Yang bikin kesel, bahan plastik paling jelek ya ngumpulnya disitu. Apalagi kalo megangnya pake tangan yang keringetan… nyetok cairan pembersih dashboard yang banyak aja kali ya.

Udah gitu, meter cluster speedometernya antik bener desainnya. Kaya lagi di dalem mobil yang murahan berteknologi sebelum abad 21. Waktu crosscheck sama versi luaran, ternyata versi luaran dikasih meter cluster yang keren dengan iluminasi biru yang bagus. Kenapa yang disini nggak gitu juga?

Yang paling bikin masalah, peletakannya semua isi mobil ini. Misalnya kursi driver. Kursi itu ternyata lebih tinggi dari kursi lainnya. Mungkin maksudnya buat meminimalisir efek dashboard ketinggan tapi malah menimbulkan masalah baru lagi. Why? Setirnya kan kegedean. Jadi mau gak mau mesti dinaikin juga supaya gak mentok paha. Udah gitu, posisi yang tinggi bikin driver sulit menjangkau sekitarnya. Misalnya tuas transmisi. Tuas transmisi itu posisinya tepat di tengah dan rendah, bikin saya secara gak sadar posisi duduk sedikit miring ke kiri supaya bisa pegang tuas transmisinya. Benernya sih gak jadi masalah besar tuas transmisi itu adanya ditengah karena sudah lazimnya tuas transmisi SUV modern dikelilingi banyak tombol fitur aneh-aneh semisal All Wheel Drive transfer case, Traction Control, AFS, Damper, Sport Button, atau apapunlah itu. Nah, masalahnya, semua fitur yang disebutin tadi itu gak ada alias di sekitar tuas transmisinya kosong melompong. Piye toh…

Gak cuman itu aja masalahnya, desain dashboard yang dianut Santa Fe ini simetris. Bener-bener simetris sama panjang kiri kanan ke tengah. Jadinya apa? Tombol-tombolnya jadi jauh dari driver dong. Mau gak mau mesti nengok supaya gak salah pencet atau memaksimalkan kerja navigator di kursi depan. Supaya aman gimana? Berhenti aja sekalian.

Tadi udah sedikit dimention diatas kalo yang dimasukin ke Indonesia raya ini tipe SWB (dimana si sales ngotot gak ada yang tipe LWB even di luaran), dan yang bikin kaget itu mereka buat mobil SWB ini jadi mobil 7-seat alias ada kursi di baris ketiga. 5+2 kalo kata saya dengan catatan 2 kursi dibelakang itu buat anda-anda yang dengan sengaja ingin menyiksa tamu tak diundang yang pengen ikut nyobain mobil baru anda, hehe. Serius deh. Kursi baris ketiganya menyedihkan. Akomodasi flat dengan legroom yang alamak kecilnya. Belum lagi akses masuknya luar biasa susah. Anda cuman dikasi celah ajaib yang muncul kalo sandaran kursi baris kedua dimajuin total. Sandaran itu pun mentok di… sudut 45 derajat? Jelas banget keliatan kalo seharusnya gak ada kursi di baris ketiga.

Untuk fitur non kursi, the most mentioned pastinya panoramic fiturnya yang Luar biasa bagus. Full glass dari depan sampe belakang dengan sedikit bagian yang bisa dibuka ke atas di baris pertama. Udah gitu juga dikasih full sunshade yang pengoperasiannya full elektrik yang mulus nyaris tak bersuara. Jelas lebih bagus ini daripada panoramic-panoramican ala E-Class kmaren yang aslinya mah dua sunroof terpisah.

the mighty panoramic roof

Lainnya apa ya… cruise control, ECO biar gaya nyetir kita lebih hijau, lampu yang udah HID, sepasang airbag buat driver sama penumpang depan, itu aja kali ya… Hah? Masa iya sih?

Test Drive

Tadi udah dimention kalo mobil ini mesinnya diesel. Yes, 2.2 L CRDi Turbo dengan (torsi 445Nm, power 198 HP). Cukup gede untuk ukuran mobil diesel.

Well, aslinya sih saya gak suka mesin diesel. Mau yang dipasang di mobil kek, mau yang dipasang di genset kek, semuanya sama. Berisik, getaran ampun-ampunan, asap hitam, baunya apalagi. Gak percaya? Lha Fortuner ato Pajero Sport yang asapnya item banyak kan? Atau liat mobil-mobil panther deh, ato… tiap hari dijalan ada bis DAMRI ato truk bawa barang ‘kan? Nah itu namanya mesin diesel.

Pas dinyalain, ternyata getaran mesin mobil ini halus mirip mesin bensin biasa. Ini diesel paling halus dari semua diesel yang pernah saya kenal. Ternyata mobil ini baru dikasih minum PertaDEX, solar terelit di Indonesia raya yang nyarinya pun sesusah nyari jerami di tumpukan jarum. Eh kebalik.

Abaikan posisi duduk yang nanggung banget itu, dan saya mulai injek gasnya. Yaelah… lemot. Oh ternyata indikator ECO yang melimit kemampuan mobil masih nyala. Matikan fitur ECO dan barulah si mesin keluar aslinya. Injek lagi gasnya dan si saya langsung nempel di jok. Tenaga putaran bawah tengahnya besar. Turbo lag juga nyaris gak kerasa, memastikan si Santa Fe ini bakal selalu langsung nurut sama kekuatan injakan pedal gas, gak mikir dulu. Dipake di jalan lurus, ngebut itu urusan gampang! Mau berhenti? Urusan gampang juga karena sudah tersedia rem dengan A-EBD, Torque Distribution Control, dan ventilated disc yang bikin urusan ngerem jadi halus, tanpa sentakan di rem, tapi jaraknya berhentinya gak kepanjangan.

Bagus ya? Cuman sampe disitu doang tapi.

Ketika ketemu tikungan, langsung kerasa kalo body roll mobil ini besar. Anda bisa sampe pindah kursi saking kerasnya tekanan akibat body rollnya.

Semakin dibawa ngebut, semakin juga kerasa kalau si transmisi automatic 6-speed ini agak-agak telat mikir. Sering salah masukin gigi pula. Contoh yang paling serem gini, pas posisi kita lagi di jalan rata n cukup ngebut sampe posisi gear ada di… katakanlah gear 5, mendadak ketemu turunan agak tajam n kita secara spontan ngelepas injakan gas, si transmisi bakal mikir dulu agak lama sebelum posisi gearnya turun. Efeknya apa? Ya selama dia mikir itu si mobil bakal terjun bebas ke bawah.

Transmisi ini juga gak bisa ngimbangin ritme manuver kencang-rem-injek gas lagi. Mobil jadi kerasa ajrut-ajrutan buat ngejar momentum pas lagi kencang barusan. Lha piye toh? Transmisi buat mesin besar kok malah sama aja kaya transmisi Yaris tahun 2006? Macam jalan tol kita ini pasti lajur kanan kosong aja…

Buat menambah ketegangan, ditengah sesi ngetes tiba-tiba kota bandung tercinta ini disiram air sama langit. Hujan badai maksudnya. Dalam sekejap jalanan berubah jadi sungai… lengkap sama batu, lubang jalan, lengkap sama ranting pohonnya. Masih kurang ekstrem? Perlu dimention kalau kabutnya ikutan turun juga?

Harusnya justru sebuah SUV unjuk kebolehan di cuaca ekstrem ‘kan? Nah, si Santa Fe ini… entah malu-malu entah memang gak punya kemampuan. Grip ban kurang, gejala aquaplanning (mobil kerasa melayang pas lewat genangan air) besar, n mobil kerasa kemana-mana. Alamak!

Setelah diteliti lagi, paket penjualannya menyertakan penggunaan ban Kumho Solus KL21 yang setelah saya tanya sama masternya ban saya baru tahu kalau ban itu jenisnya eco-friendly all-season alias cuman bisa dipake jalan santai dan lurus. Masa iya ban level alon-alon mesti diklakson gini dipasangin sama mesin besar…

Sampe lupa dimention bantingan mobil ini benernya cukup keras walaupun masih reasonable. Yah, kalo setirnya bagus sih gak apa-apa. Masalahnya, setirnya ini kelewat ringan buat ukuran SUV. Mungkin gara-gara ada hydrolic power steering. Implikasinya kemana? Feedbacknya kurang. To make it worse, waktu nembus sungai padahal jalan itu, saya notice bunyi besi kepentok besi dari arah roda depannya setiap lewat jalan rusak, atau ngelindes ranting pohon. Udah gitu pantulan suspensi jadi sangat keras.

Satu lagi yang mesti dimention banget, ini mobil gak ada fitur Hill Assist padahal transmisinya matic. Efeknya apa? Coba aja jalan di turunan dan si mobil bakal langsung meluncur bebas tanpa rem, kalau anda gak injak remnya. Maksudnya, kalau ada Hill Assist, si mobil bakal melambat sendiri seolah-seolah ada engine brake dan gak bakalan meluncur bebas gitu.

End of words,

I feel betrayed.

Satu kalimat barusan udah cukup menggambarkan kekeewaan si saya sama Santa Fe yang udah sangat dinantikan ini. IDR 452 million for casing saya rasa bukan menjadi rasionalisasi untuk meminang si Santa Fe. Okelah casingnya luar biasa kasta, mesinnya pun cukup mengesankan, buka pintunya, dan… saya sih bakal langsung nutup lagi. Cukup ngagumin dari luar aja. Gak. Gak usah disetir. Disetirin pun gak usah.

Lha habisnya mau gimana lagi? Ini mobil SUV tapi fiturnya paling gak SUV dari semua SUV yang beredar di Indonesia raya ini. All Wheel Drive juga gak, fitur aneh-aneh kaya Traction Control entah hilang kemana, Hill Assist gak ada padahal ini mobil matic, paket jualannya malah dikasih ban untuk jalan santai, dan sebagainya. Fitur pemanisnya juga… airbag cuman dapet 2, audio built-in cuman bisa muter CD, gak ada AFS yang bikin lampu bisa belok sendiri ato naik sendiri ato apapunlah, rain sensor yang bikin wiper nyala sendiri gak ada, front distance sensor yang macem sensor parkir di depan gak ada, dan sebagainya.

Yang bikin mau ngakak, Santa Fe ini (menurut sales and a certain automotive magz) berada di kelas yang sama dengan Mitsubishi Pajero Sport, Toyota Fortuner, Hyundai Everest, Chevrolet Trailbazer, pokoknya big SUV. Dari harganya sih iya. Tapi, by size of its body apalagi ini versi SWB, saya merasa dia mestinya masuk di celah antara Honda CRV ke Toyota Fortuner kalau kata saya mah. Lebih simpelnya, dia ini mestinya sekelas Toyota Harrier atau Mazda CX-7.

Alternatif lain? Perasaan sudah disebut semuanya di paragraf sebelum. Well, Harrier sama CX-7 ada di range harga yang agak sedikit diatas kuartet big SUV btw.

NB : perlu diketahui kalau kekecewaan saya murni objektivitas sama mobilnya loh ya. Bukan karena saya anti-korea. Soalnya banyak yang komentar kalau kekecewaan saya lebih karena sayanya yang anti-korea dari sononya. Andai kata, Andai loh ya, Hyundai Indonesia masukin yang versi LWB dengan segala fitur-fiturnya, naikin lagi harganya ke level Pajero Sport Dakar atau lebih tinggi sedikit, dan saya masih sangat berminat membelinya.

Tags: , , , , , , ,

One Response to “Test Drive – New Hyundai Santa Fe 2013”

  1. Sekarang sudah mau meluncur lho Hyunda Santa Fe 2017, lebih keren dan mewah desainnya šŸ˜€

    Gayahidupku.com

Leave a Reply

Name (required) Mail (required) Website